16 Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak Menurut Islam

Anak merupakan karunia Allah ta’ala yang patut disyukuri oleh setiap manusia, sebab ternyata di luar sana masih banyak pasangan suami istri yang bersabar menunggu kehadiran buah hatinya walaupun sudah 5-10 tahun dari pernikahannya. Tapi perlu kalian ketahui bahwa sebenarnya anak adalah amanah Allah yang harus dijaga, bukan malah dibiarkan. Dalam Islam sudah tertulis secara detail terkait hak-hak anak yang wajib dipenuhi oleh orang tua.

Membangun generasi itu butuh persiapan yang matang, karena Islam memiliki visi misi yang besar untuk setiap keluarga muslim, dan visi misi tersebut sudah disampaikan oleh nabi Muhammad serta para sahabatnya, bahkan diabadikan di dalam Al-Quran Qs. At-Tahrim 21. Nah salah satu bentuk persiapan dalam membangun generasi adalah mengetahui kewajiban orangtua pada anaknya. Hal ini demi terwujudnya harapan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam untuk generasi kita.

 

Setidaknya ada 16 kewajiban orang tua pada anak yang berhasil kami rangkum dari al-Quran dan Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam serta buku-buku pendidikan anak dalam Islam seperti Modul Kuttab Satu dan buku karya Syaikh Khalid Syantut, dibaca pelan-pelan:

1. Memberi Nama Kepada Anak yang Baru Lahir

Inilah kewajiban orang tua terhadap anak yang pertama. Dr. Khalid Syantut menyebutkan, “Salah satu hak anak atas ayahnya adalah memberikan dia nama yang baik” Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu, Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

2. Menyusui Anak

Untuk yang satu ini adalah ditujukan pada uminya atau ibunya. Menyusui adalah bentuk interaksi anak dengan ibunya, di mana saat itu adalah waktu yang sangat tepat untuk mengajarkan hal-hal yang baik. Misalnya mengenalkan Allah, mengenalkan Islam atau bisa juga dibacakan al-Quran (mengaji). Perkataan-perkataan yang baik akan sangat berpengaruh baginya meskipun si anak sendiri belum bisa bicara.

Dalil tentang menyusui ini ada di dalam Qs. Al-Ahqaf dan Al-Baqarah:

Allah berfirman, yang artinya: “Kami perintahkan kepada manusia Supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkanya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”. [Al Ahqaf : 15]

Allah juga berfirman, “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”. [Al Baqarah: 233]

3. Kewajiban Orang Tua Mendidik Anak

Mendidik anak merupakan salah satu yang paling penting di antara kewajiban orang tua terhadap anaknya. Saudaraku, ketahuilah bahwa semua dimulai dari pendidikan, bahkan pertama kali Islam turun pun membahas tentang pendidikan (membaca dan menulis di Qs. Al-Alaq 1-2). Lalu pendidikan apa yang bagus untuk anak?

Mendidik anak yang baik adalah pendidikan secara Islami, dan bukan seperti pendidikan yang banyak dipercaya oleh orang-orang saat ini. Hari ini masyarakat sudah sangat akrab dengan model pendidikan barat yang sekuler. Bahkan banyak sekali yang beranggapan pendidikan sekular lebih maju atau lebih baik dibandingkan model pendidikan 1500 tahun yang lalu (pendidikan masa kejayaan Islam). Sehingga tidak sedikit juga orangtua yang takut meletakkan kedua kaki anaknya di bangku sekolah yang berlabel lembaga Islam. Takut akan nasib sang anak di dunia, sehingga memisahkan antara Islam dan umum.

Maka untuk memenuhi kewajiban ini orang tua (khususnya ayah sebagai pemimpin rumah tangga) harus mengacu dan melihat bagaimana Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- mendidik para sahabat dan generasi awal umat Islam. Karena konsep tersebut telah terbukti melahirkan generasi terbaik, sampai-sampai Islam berhasil menguasai dunia di beberapa abad. Jadi akan sayang sekali jika sistem terbaik yang panduannya langsung dari Allah malah dikesampingkan.

4. Menanamkan Karakter Iman Sejak Dini

Jika hari ini banyak yang menciptakan dan merumuskan “pendidikan karakter” maka Islam lebih dulu membuatnya dan dinamakan sebagai karakter imani. Terlebih lagi perencanaan kurikulum “pendidikan karakter” yang dimiliki Islam bukan dari manusia, melainkan dari Allah taala atau bisa diartikan the real character building.

Dalil kewajiban orang tua untuk menanamakan karakter iman pada anak ini tertulis dalam hadits Jundub bin Abdillah radiyallahuanhu:
عن جُنْدُبِ بن عبد الله قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيماناً ) رواه ابن ماجة (61) والطبراني في المعجم الكبير (1678) والبيهقي في سننه الكبرى (5075) وهو حديث صحيح

Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata:”Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum Al Qur’an kemudian setelah kami belajar Al Qur’an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar Al Qur’an dulu sebelum belajar iman” (Riwayat At Thabrani, Al Baihaqi, Ibn Majah, dishahihkan Al Albani)

Ya, itulah kunci keberhasilan generasi para sahabat. Yaitu “belajar iman dan iman” sejak dini. Untuk mengetahui maksud belajar iman sebelum al-Quran silahkan baca ini, [maksud belajar iman sebelum Quran] agar kalian tidak salah paham. Tapi intinya hampir mirip seperti menanamkan “aqidah dan tauhid” hanya saja ini lebih dalam dan bisa menumbuhkan iman serta menguatkan pondasi aqidah anak.

5. Mengajarkan “Adab” pada Anak Sejak Dini

Poin kelima ini juga tidak kalah penting, yakni mengajarkan adab-adab Islam demi terciptanya ilmu yang bermanfaat. Betapa banyak hari ini yang hafal al-Quran namun adabnya sama sekali tidak menggambarkan al-Quran. Maka semua ulama ahlus sunnah wal jamaah dahulu sangat memperhatikan adab. Imam Malik rahimahullah berkata,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu”

Abdullah bin Mubarak juga berkata, “Dahulu kami belajar adab 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun”.

6. Mengajarkan Shalat Ketika Umur 7 Tahun

Mengajarkan sholat adalah bagian dari kewajiban orang tua. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memerintahkan para orang tua agar mulai mengajarinya shalat di usia 7 tahun:
ﻋَﻦْ ﻋَﻤْﺮِﻭ ﺑْﻦِ ﺷُﻌَﻴْﺐٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﻋَﻦْ ﺟَﺪِّﻩِ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣُﺮُﻭﺍ ﺃَﻭْﻻﺩَﻛُﻢْﺑِﺎﻟﺼَّﻼﺓِ ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺀُ ﺳَﺒْﻊِ ﺳِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﻫُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺀُ ﻋَﺸْﺮٍ ﻭَﻓَﺮِّﻗُﻮﺍ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ‏: ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻼﺓ‏

Dari Amar bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: Rasulullah Bersabda: “Perintahlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan)” (HR.Abu Daud dalam kitab sholat Hadits shahih; Sunan Abu Daud (2/162/419) , Ibnu Majah (5868) (2/237/84), Hakim (1/197)

7. Menanamkan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad

Sebenarnya tugas orang tua yang ketujuh ini termasuk dari menanamkan karakter iman (iman kepada Rasul) namun untuk menguatkan kami pisahkan menjadi pembahasan sendiri.

Mengarahkan anak agar lebih mendahulukan mencintai Allah dan RasulNya dibandingkan orang tua bisa menyebabkan si anak mudah menerima seruan Allah, baik berupa ayat maupun hadits. Bahkan iman seorang hamba tidak akan sempurna sampai dia mencintai keduanya daripada seluruh manusia. Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda

لاَ يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حتى أكُوْنَ أحَبَ إلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَ النَّاسِ أجْمَعِيْنَ

“Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia” (H.R Al Bukhari (14) Muslim (2/15 Nawawi), Ibnu Majah (67), Ad Darimi (2/307), Ahmad)

8. Mengajarkan Al-Quran dan Kandungannya Pada Anak

Al-Qur’an sudah menjadi tolak ukur untuk sebuah generasi. Jika Al-Qur’an ini hidup di sebuah generasi, maka pasti generasi tersebut akan menjadi generasi yang unggul bagi pemimpin bumi. Namun sebaliknya jika Al-Qur’an ini jauh dari generasi, maka masyarakat negri akan gelap dalam dekapan jahiliyah dan muslim tidak mampu menjadi pemimpinnya. Bukankah hari ini sudah terbukti di negara kita?

Maka sebab itu setiap orang tua wajib mendidik anaknya agar cinta dan belajar al-Quran, bukan hanya dihafal namun juga dipelajari maknanya. Itulah gambaran generasi yang kokoh sebagaimana dulu para salafus shalih. Dari sahabat Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

خَيْرُكُمْ مضنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya”. (H.R al Bukhari 5027)

Untuk itu tunaikan kewajiban ibu dan ayah terhadap anak yang satu ini. Agar berhasil mencetak generasi qurani.

9. Memberikan Nafkah yang Halal

Kewajiban orang tua kepada anak menurut Islam yang kesembilan ialah memberikan nafkah yang halal. Sebaik apapun cara kita mendidik anak namun jika apa yang dia makan, dia pakai melalui harta yang syubhat sekali pun maka tidak akan membuahkan keberkahan. Yang syubhat saja harus ditinggalkan apalagi yang jelas-jelas haram?
Allah Maha Kaya, janganlah kita khawatir dengan harta dunia. Sebaik apapun kita menjaga harta, tetap saja ia akan lepas dari genggaman kita saat meninggal.

10. Banyak Berkisah Pada Anak

Inilah kewajiban yang sudah dicontohkan Allah terhadap hambaNya, dimana pada isi al-Quran hampir setengahnya adalah kisah. Itu artinya di sana banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Qs.Yusuf:111)

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”

 

11. Membiasakan Kebaikan Pada Anak

Percaya atau tidak percaya, bahwa anak yang masih kecil, misalnya usia satu tahun, dia sudah bisa menirukan apa yang diajarkan kepada anak. Sebab dia adalah peniru ulung. Apa yang menjadi kebiasaan orangtuanya bukan tidak mungkin akan membentuk karakter anak. Berikut cara membiasakan hal yang baik kepada anak usia dini:

Mengucapkan salam sebelum masuk rumah walaupun belum bisa bicara.
Meminta izin dalam segala hal pada orang tuanya.
Menjawab bersin. “Alhamdulillah” “Yarhamukallah” dan “Yahdikumullah”
Berkata baik dan penuh adab sopan santun.
Bersyukur setiap hendak makan.
Dan masih banyak lagi yang lainnya.
12. Mengajarkan Kejujuran

Sampai kepada kewajiban orang tua pada anak menurut hukum islam yang ke 12. Jujur ialah sikap terpuji yang wajib ditanamkan kepada anak-anak kita. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu dari Nabi Shallallahualaihi wa sallam, Beliau bersabda.

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga, dan sesungguhnya seseorang berkata jujur sehingga dia menjadi orang yang jujjur. Dan sesungguhnya kedustaan menunjukkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan mengantar kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang berkata dusta hingga ia tercatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR Al Bukhari 6094)

13. Adil Pada Semua Anak

Adil untuk semua anak baik laki-laki maupun perempuan harus ditunaikan oleh setiap orang tua, sebab adil adalah keteladanan orang tuanya yang akan diwariskan pada generasi setelahnya, maka barang siapa yang tidak adil bisa jadi rantai ini akan terus menyambung sampai keturunan berikutnya. Perkara adil ini sangat ditekankan oleh nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, sampai-sampai beliau menyebutnya 3 kali:

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda:

اعْدِلُوا بَيْنَ أَبْنَائِكُمْ ،اعْدِلُوا بَيْنَ أَبْنَائِكُمْ ،اعْدِلُوا بَيْنَ أَبْنَائِكُمْ

“Bersikap adillah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu” (HR. Ahmad 4/275,278,375)

14 & 15. Keteladanan dan Doa dari Orang Tuanya

Keteladanan sudah menjadi perkara mutlak untuk diterapkan oleh setiap pendidik, sebagaimana Rasulullah yang menjadi teladan bagi umatnya. Untuk itu mari membaca al-Quran sebelum menyuruh anak membacanya, mari mengerjakan sunnah-sunnah Rasulullah, mari mengerjakan hal-hal baik dalam Islam dan juga yang tidak kalah penting adalah berdoa kepada Allah ta’ala:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (Qs. Ash-Shaffaat: 100)

16. Menikahkan Anaknya

Kewajiban orang tua terhadap anak yang terakhir adalah menikahkannya, apalagi hari ini adalah zaman fitnah di mana aurat sudah menjadi barang halal bagi pelaku maksiat. Jadi sebaiknya bagi putra putri bapak yang sudah mampu dan tidak kuat menahan nafsu dinikahkan saja langsung. Insyaallah bila sudah menikah mereka akan mandiri dengan sendirinya. Allah berfirman:

“Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin), dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki maupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (Qs. An-Nur: 32)

Alhamdulillah itulah 16 kewajiban orang tua terhadap anak menurut Islam, semoga bisa menjadi pelajaran buat kami dan pembaca sekalian. [Tulisan ini bersumber dari kitab Dr. Khalid Syantut, Tarbiyatul Aulad fil Ahadits Asy-Syarif dan Modul Kuttab 1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *