Lisanmu menentukan nasibmu, jagalah lisan

Bismillahirrahmanirrahim

Mulutmu harimaumu…..

Lidah tidak bertulang tapi bisa lebih tajam daripada pedang….

Diam adalah emas….

Itulah ungkapan-ungkapan yang sering dialamatkan kepada salah satu indera manusia. Ya itulah lisan, termasuk di dalamnya lidah yang berfungsi untuk membantu melafalkan rangkaian kata-kata. Dengan lisan seseorang akan terhormat atau terhina, dengan lisan pula dia akan selamat kelak di akhirat masuk surga atau sebaliknya masuk neraka.

Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjaga lidah/lisannya sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad rahimahullah sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda:

إِنَّ الرَّجلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَضْحَكُ بِهَا جلَسَاءُهُ يَهْوِي بِهَا مِنْ أَبْعَدَ مِنَ الثُّرَيَّا

“Ada kalanya seseorang berbicara dengan suatu kata di mana orang disekelilingnya tertawa dengan ucapannya, namun dengan kata tersebut dia terpelanting ke tempat yang lebih jauh dari bintang tsuroyya”. [1]

Berbicaralah dengan hal yang baik atau diam sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْلِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka berbicaralah dengan baik atau diam”.[2]

Berkata baik merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu shodaqoh, hal ini sebagaimana tersirat dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah s.a.w.bersabda:

 كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ,كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ:يَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صََدَقَةٌ,وَيُعِيْنُ الرَّجُلَ عَلىَ دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْيَرْفَعُ مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَاْلكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ …

“Setiap persendian tubuh manusia (membutuhkan) sodaqoh setiap hari tatkala terbit matahari, berbuat adil di antara dua orang adalah sodaqoh, menolong orang menunggangi hewan tunggangannya juga mengangkat barang bawaannya adalah sodaqoh dan berbicara dengan kalimat yang baik adalah sodaqoh”.[3]

Bahkan orang yang berkata baik akan dijauhkan dari api neraka sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Adi’ bin Hatim radhiallahu anhu bahwa Nabi s.a.w. bercerita tentang api neraka kemudian beliau memalingkan wajahnya sambil minta perlindungan darinya, kemudian bersabda:

اتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jagalah diri kalian dari api neraka walau dengan sebelah kurma barang siapa yang tidak mendapatkannya maka dengan ucapan yang baik”. [4]

Kemudian, berusahalah untuk sedikit berbicara, sebab banyaknya berbicara akan menyebabkan seseorang terjerumus kedalam perbuatan dosa, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَّي وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مِجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُوْنَ

“Dan sesungguhnya orang yang paling aku dibenci dari kalian dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah orang yang banyak bicara”.[5]

 Kemudian, jauhilah perbuatan ghibah, sebagaimana firman Allah s.w.t.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat: 12)

Point Penting: “Ghibah diperbolehkan pada enam tempat”:

  1. Diperbolehkan bagi orang yang terzhalimi menceritakan kezhaliman orang lain kepada pemerintah dan hakim.
  2. Bertujuan untuk merubah kemungkaran.
  3. Meminta fatwa (seperti halnya ia berkata Fulan menzhalimiku dengan ini dan itu).
  4. Untuk mengingatkan dan menasehati kaum muslimin dari keburukan. (dengan maksud menasehati).
  5. Orang yang dighibahi adalah seorang yang benar-benar menampakkan kefasikan dan kebid’ahannya.[6]
  6. Untuk memberikan keterangan kepada orang-orang (yang bertanya), bilamana orang tersebut terkenal dengan sebutan seperti bermata kabur, pincang dan buta, dan diharamkan memberikan keterangan itu dengan tujuan menghinakannya.[7]

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam ghibah yang diperbolehkan, diantaranya adalah:

  1. Niat ikhlas hanya untuk mencari keridho’an Allah semata.
  2. Berusaha untuk tidak menyebutkan nama orang tertentu semaksimal mungkin.
  3. Mengingatkan seseorang dengan apa yang diperbolehkan baginya.
  4. Berkeyakinan bahwa tidak akan ada kerusakan lebih besar yang diakibatkan oleh point-point penting yang disebutkan di atas.

Sebab-sebab yang mendorong seseorang berbuat ghibah:

  1. Menyalurkan kemarahan, hendaknya ia ingat akan sabda Nabi s.a.w.:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ اْلحُوْرِ مَاشَاءَ

“Barang siapa yang menahan kemarahan, padahal dia mampu untuk melakukannya maka Allah s.w.takan menyerunya atas di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat, untuk memilih bidadari yang dikehendakinya”.[8]

 2. Menyesuaikan diri dalam pergaulan dan sengaja mengada-adakan sikap baik kepada teman. Hendaklah dia mengingat akan sabda Nabi s.a.w.:

وَمَنِ اْلتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ وَكََلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa mencari kerelaan manusia dengan (berbuat sesuatu yang) dibenci oleh Allah maka Allah pasti menyerahkan urusannya kepada manusia”.[9]

  1. Hendak meninggikan derajat dirinya dengan cara mengejek orang lain. Obat bagi orang yang memiliki sifat tersebut adalah mengetahui bahwasannya apa-apa yang dimiliki oleh Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.
  2. Bersenda gurau dan bercanda. Rasulullah s.a.w.bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبَ لِيَضْحَكَ بِهِ اْلقَوْمُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celaka bagi orang yang berkata kemudian berbohong supaya orang-orang tertawa, maka celaka baginya, maka celaka baginya”.[10]

  1. Iri dengki, Rasulullah s.a.w. bersabda:

لاَ يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ:اَْلإِيْمَانُ وَاْلحَسَدُ

“Tidaklah berkumpul dalam hati seorang hamba: iman dan sifat dengki.[11]

  1. Menisbatkan sesuatu pada orang lain dengan maksud membersihkan diri darinya.
  2. Banyak waktu yang kosong.
  3. Untuk mendekatkan diri kepada pemimpin dan penguasa.

Beberapa perkara yang tidak dikategorikan sebagai ghibah padahal ia adalah ghibah

  1. Seseorang terkadang berbuat ghibah tetapi apabila dibantah dia berkata: (Saya siap mempertegas ucapan tersebut di hadapannya).
  2. Perkataan orang di depan halayak ramai tatkala menceritakan seseorang (Kita berlindung pada Allah dari kurangnya rasa malu) atau (Fulan demi Allah melewati batas).
  3. Perkataan seseorang, orang itu terkena musibah dengan ini (lalu menceritakan kejelekannya).
  4. Menganggap enteng membicarakan kejelekan orang yang berbuat maksiat.

(bersambung)

(Referensi: “Adab-Adab Berbicara”, karya Majid bin Su’ud al-Usyan, terjemah: Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc., editor: Eko Haryanti Abu Ziyad, dengan editing seperlunya)

 

 

[1] HR. Ahmad dalam kitab Al Musnad no:8967

[2]HR Bukhari no:6018

[3] HR Bukhari no:2989 Muslim no:1009

[4] HR Bukhari no:6563 Muslim no:1016

[5] HR.At Tirmidzi no: 2018 dari hadits Jabir r.a dengan memakai lafadz dari beliau

[6]Imam Bukhari mengemukakan dalil diperbolehkannya menceritakan orang yang berbuat kerusakan dan kesyirikan dengan sabda Rasulullah r ketika menceritakan Ainah bin Hisan tatkala ia meminta izin kepada Nabi r untuk bertemu dengan beliau saat itu beliau berkata :Sejelek-jeleknya saudara keluarga.

[7] Pengarang kitab Al Mukhtar dari golongan Hanafiyah berkata: ولا غيبة لأهل القرية(Tidak adaghibah pada penduduk kampung) . Adab As Syariyyah Ibnu Muflih Juz 1 Hal 274

[8] HR.Abu Daud no: 3997 dan dihasankan oleh Al Albani

[9] HR.At-Tirmidzi no: 1967 dihasankan oleh Al Albani

[10]HR.Abu Daud no:4990 dan dihasankan oleh Al Albani

[11] HR.Shohih Al jami’ 7620

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *