Mendidik anak ala rasulullah SAW sesuai usianya

Orangtua mana yang tidak mendambakan anak yang shaleh/shalehah, cerdas, dan membanggakan? Namun, keinginan dan upaya yang dilakukan kerap kali belum sejalan. Tidak sedikit orangtua lebih mengandalkan guru maupun tenaga pendidik tempat les untuk mencerdaskan anak-anak.

Padahal kunci cerdasnya anak kita justru ada di rumah, ada pada diri kita sebagai orangtua. Tak ada salahnya menerapkan tips mendidik anak ala Rasulullah yang Insya Allah dapat mencerdaskan anak secara intelektual maupun emosional.

Orangtua perlu memahami bagaimana tahapan mendidik anak sesuai dengan usianya yang dilakukan oleh Rasulullah. Bagaimanakah caranya?

1. Anak usia 0 hingga 6 tahun: Perlakukan anak sebagai raja

Sejatinya anak usia 0-6 tahun kerap disebut usia emas atau golden age bukan tanpa alasan. Anak pada usia ini akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat tanpa kita sadari.

Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk selalu berlemah lembut terhadap anak yang masih berusia dari 0 sampai 6 tahun.

Memberikan kasih sayang penuh, memanjakan, merawat sepenuh hati, sekaligus membangun kedekatan dengan anak termasuk pola mendidik yang baik. Jadikan buah hati merasa aman, merasa dilindungi, dan nyaman bersama orangtua. Hindari sikap marah-marah dan memberi banyak larangan, berikanlah kesempatan pada anak supaya merasakan kebahagiaan yang berkualitas di masa kecil.

2. Anak usia 7 hingga 14 tahun: Perlakukan anak sebagai tawanan perang

Di rentang usia anak ini, perkenalkanlah anak dengan tanggung jawab dan kedisiplinan.  Kita perlu melatihnya dengan memisahkan tempat tidur sendiri dan menjalankan shalat 5 waktu.

Pukullah anak saat anak tidak mau mendirikan shalat, tapi tentu bukan pukulan bertujuan menyakiti atau pukulan di kepalanya. Hal ini tertuang dalam hadist,

Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud).

Buatlah sanksi-sanksi ketika anak melanggar, yang mana harus sesuai dengan kesepakatan antara anak dan orangtua. Latih anak mandiri mengurus dirinya sendiri, seperti cuci piring, cuci baju, maupun menyetrika. Pelajaran mandiri seperti ini akan membawa banyak manfaat di masa depannya, khususnya bagi kecerdasan emosionalnya.

3. Anak usia 15 hingga 21 tahun: Perlakukan anak seperti sahabat

Inilah usia di mana anak akan cenderung memberontak, sehingga dibutuhkan pendekatan yang baik kepada anak.  Tujuannya adalah agar kita bisa meluruskan anak ketika ia berbuat kesalahan, sebab kita sudah dekat dengan anak.

Ciptakan rasa nyaman pada anak bahwa kita orangtua bisa dipercaya layaknya sahabat setia yang siap mendengar segala cerita dan curahan hati. Jangan sampai ketika mereka punya masalah justru mencari solusi dan lebih memilih curhat ke orang lain terlebih dulu.

Didiklah anak dengan membangun persahabatan, agar ia tidak merasa bahwa orangtua adalah orang ketiga yang tidak boleh tahu atau bahkan terkesan ikut campur tentang permasalahan diri anak.

Penting untuk diingat bahwa orangtua dilarang untuk memarahi maupun menghardik anak di hadapan para adik ataupun kakak-kakaknya. Maksudnya agar harga dirinya tidak jatuh, sehingga ia tidak merasa rendah diri. Tidak ada anak yang bisa memilih seperti orangtuanya, maka jalinlah dan berikan pendekatan terbaik seperti contoh mendidik anak ala Rasulullah tersebut.

Semoga bermanfaat.

Sumber : moslemlifestyle.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *